
semakin tinggi pengaruh modernisasi barat, semakin tinggi pula kesenjangan antara si kaya dan si miskin di negara kita. Para aktivis memandang fenomena ini sebagai suatu rantai penindasan.
orang kaya adalah penindas (pengusaha, kapitalis, birokrat, koruptor)
orang miskin adalah tertindas (buruh, petani, nelayan, kaum marjinal, anak jalanan)

Para aktivis sering melakukan demostrasi, dengan harapan akan terjadi penyamarataan, kondisi yang tanpa penindasan. Bahkan mereka berharap si kaya mau berbagi kesejahteraan dengan si miskin.
Mereka sangat memikirkan masalah berat yang dialami si miskin,
tanpa mempertimbangkan bahwa si kaya pun memiliki masalah yang berat.

Jika kita memandang dari sudut pandang si kaya, maka tahulah kita, bahwa tak sempat mereka memikirkan kesejahteraan si miskin karena mereka pun punya masalah yang tak pernah dipikirkan si miskin.
CRAZYISM
Cara yang paling efektif untuk mengatasi kondisi ini adalah, dengan menyadarkan kedua pihak bahwa:
si kaya tak lebih hebat dari si miskin, hanya kebetulan jumlah uangnya lebih banyak.
si miskin tak lebih buruk dari si kaya, hanya kebetulan jumlah uangnya lebih sedikit.
Manusia terlalu rendah jika dibatasi dengan uang.

Dengan begitu, ekonomi tak lagi dijadikan perbedaan. Rasa individualisme kaya-miskin akan terlupakan.
Orang miskin tak lagi merasa “minder” sehingga bisa mengembangkan potensinya secara total.
Orang kaya tak lagi “sepele” sehingga mau menerima karya-karya si miskin seperti dia menerima karya-karya orang kaya.

Kesejahteraan tak akan menjadi masalah lagi bagi si miskin, karena apabila potensinya sudah berkembang,
maka ekspresi-ekspresi dari potensi tersebut dapat dijual.
Juni 28, 2010
Kategori: CRAZYISM . Yang berkaitan: randri, BARAT, CRAZYISM, crazyisme, crazystudent, ideologi, indonesia, keluarga, menggila, NASIONALIS, PAHAM, SAHABAT . Penulis: andri tarigan . Komentar: 2 Komentar